Jumat, 03 Juni 2016

E-health untuk Indonesia

Sistem Pelayanan kesehatan masyarakat di Indonesia saat ini dinilai kurang efektif dan efesien dalam melayani masyarakat. sesuai dengan ungkapan anggota komisi IX Ali Taher pada Sabtu, 07 Mei 2016, yang dimuat dalam Kantor berita politik RMOL.co mengatakan "Masyarakat tidak bisa disalahkan. Ini karena pelayanan kesehatan di Indonesia buruk. Makanya, banyak yang lari ke negeri jiran untuk berobat".  Apalagi masyarakat sering mengeluh karena pelayanan kesehatan Indonesia. Pasein harus mengantri berjam-jam dengan jumlah antrian yang panjang, belum lagi ketika pengambilan obat. Seperti yang dimuatrakyatjambi.com pada Jum’at, 16 Oktober 2015, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kolonel Abundjani Bangko misalnya seorang warga yang bernama Elyanti (26) warga Pematang Kandis .Dia mengaku, sudah berjam-jam lamanya menunggu namun tidak kunjung ditangani oleh dokter. Kondisi itu menyebabkan dirinya bersama pasien lainnya menjadi terlantar. ‘’Saya bawa anak saya berobat, sudah mendaftar pukul 9.00 WIB. Tapi sampai sekarang pukul 13.00 WIB, belum ditangani.
Lalu dalam muatan sinarmedia.co pada Minggu, 27 Maret 2016,di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bob Bazar Kalianda Lampung Selatan (Lamsel) seorang warga bernama Hadi (30) menuturkan Saya ngantri ambil obat untuk saudara saya bisa sampek tidur mas di ruang tunggu itu, gimana gak, orang yang melayaninya nyantai, sedangkan pasiennya banyak.”  Dalam muatanmetro24.co pada Selasa, 10 Mei 2016, hal sama dirasa Warsidi (45). Warga Jalan Bromo Medan, ini mengatakan,  sudah dari pagi mengantri untuk berobat. “Nunggunya lama banyak yang mau berobat jadi harus sabar,” di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Pirngadi Medan di Jalan Prof HM Yamin Medan.
Dalam bidang kesehatan, Indonesia dihadapkan pada kenyataan sangat terbatasnya jumlah tenaga kesehatan. Rasio dokter umum per 100.000 penduduk di Indonesia hanya mencapai 30.98, berada di bawah rasio dokter ideal menurut Indikator Indonesia Sehat 2010 yaitu 40 per 100.000 penduduk. Untuk dokter spesialis, rasio Indonesia hanya di tingkatan 8.14, sementara Malaysia telah mencapai rasio > 60, dan Filipina mencapai rasio 120. Sementara produksi tenaga dokter belum mencukupi dan kebutuhan pelayanan kesehatan terus meningkat, diperlukan alat bantu untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelayanan. Selain alat kesehatan yang memang penting dan sangat diperlukan, teknologi informasi dan komunikasi (TIK) juga dapat berperan banyak untuk meningkatkan efisiensi serta memperluas akses layanan (Yusdho Girl Sucahyo dan Chan Bassarudin, 2015).
Oleh karena itu, pemerintah mencanangkan untuk melibatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam pelayanan kesehatan dengan menerapkan e-health atau electronic health. Ini adalah paradigma baru sistem pertukaran informasi medis anatar pasien dan dokter melalui internet. Sebab, Internet bukanlah benda awam lagi di masyarakat Indonesia. Penggunaan internet sendiri meningkat pesat karena perkembangan alat elektronik dan komunikasi. Pada ditahun 2016 ini, smartphone, tab, komputer adalah seperangkat alat teknologi informasi dan komunikasi yang sangat dibutuhkan dalam berkomunikasi, terutama dalam mengakses internet. Pengguna mobile phone di Indonesia ada 326.3 juta dibandingkan dengan jumlah penduduk di Indonesia yang cuma 259.1 juta orang, berarti 1 orang memiliki lebih dari 2 handphone dan 43% sudah menggunakan smartphone.Pertumbuhan internet sendiri adalah 15% dibandingkan sejak tahun lalu. Pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 88.1 juta orang atau 34% dari total populasi, 64.1 juta orang menggunakan internet melalui mobile phone. Frekwensi penggunaan sehari-hari internet itu sendiri masih relatif kecil yaitu 48% dari total pengguna internet. Traffic website di Indonesia 70% adalah melalui mobile phone. Dengan demikian pengguna mobile phone di Indonesia mendominasi penggunaan internet serta melakukan aktifitas membuka website dari mobile phone. 79 juta orang Indonesia aktif di social media dan 66 juta orang melakukannya dari mobile phone. BBM masih berada di peringkat pertama diikuti Facebook dan Whatsapp. Ada 326.3 juta pelanggan mobile phone yang melebihi total populasi penduduk Indonesia. Ada sekitar 162 juta pengguna yang berbeda, berarti 1 orang mempunya 2 mobile phone atau device. Baru 39% yang sudah menggunakan jarinagn 3G/4G. Aktifitas yang sering dilakukan melalui mobile phone adalah mobile messenger sebesar 27% diikuti penggunaan aplikasi Video dan GPS (Wendy Chandra,2016) Pemanfaatan Teknologi Informasi dan komunikasi dapat menjadi solusi untuk memangkas antrian di rumah sakit dan puskesmas serta pemantauan kesehatan masyrakat oleh pemerintah.
Menurut World Health Organization (WHO) yaitu “The use information  and communication technologies (ICT) for health. Example including treating patient, condacting research, educating the health workforcet, tracking dissease and monitor public health.” (Penggunaan teknologi informasi dan komunikai (TIK) untuk kesehatan. Contoh untuk merawat pasien, mendidik tenaga kerja kesehatan, pelacakan penyakit, dan pemantauan kesehatan masyarakat). Mengacu pada definisi eHealth yang diajukan WHO , maka eHealth mencakup secara komprehensif segala urusan pemerintah yang terkait dengan pelayanan kesehatan seperti: pelayanan pasien, penelitian dan pendidikan bidang kesehatan, pengendalian penyakit serta pemantauan kesehatan masyarakat secara umum. Dalam konteks ini maka pengembangan dan implementasi eHealth di suatu negara melibatkan beberapa institusi kunci yaitu: Pemerintah (c.q. jajaran Kementreian dan Dinas Kesehatan, Konsil Kesehatan), Institusi pelayanan kesehatan (rumahsakit, klinik, apotek), Institusi pendidikan, serta Institusi pembiayaan kesehatan seperti asuransi  (Yusdho Girl Sucahyo dan Chan Bassarudin, 2015). 
Sedangkan, Pada KepMenKes Nomor 192/MENKES/SK/VI/2012, yaitu  “Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di sektor kesehatan terutama untuk meningkatkan  pelayanan kesehatan”. Tujuan pelayanan menggunakan e-health adalah pertukaran informasi medis dan komunikasi antara doker dengan pasien melalui internet. Penggunaan internet oleh rumah sakit besar di kota lebih berbentuk informasi dan promosi belum kepada tahap komunikasi antara pasien dengan pihak rumah sakit.
Layanan e-health terdiri dari 6C yaitu Content, connectivity, commerce,community, clinic care dan computer aplication. Fungsi dari e-health adalahmenggambarkan kemampuan unik internet yang memungkinkan pengiriman pelayanan kesehatan yang merupakan karakter dari telehealth dan telemedicine. Hasilnya adalah pelayanan kesehatan menjadi lebih efesien. Bentuk dari e-health yaitu Electronic health records, telemedicine, consumer health informatics, ehealth, medical research using grids, dan healthcare information system.
Kendala dalam penerapan e-health di Indonesia saat ini nadalah sebafai berikut (Yusdho Girl Sucahyo dan Chan Bassarudin, 2015) : (1) Kesenjangan Digital Masih terbatasnya infrastruktur TIK di beberapa daerah tentunya membatasi penyebaran implementasi e-Health. Inisiatif PLIK dan MPLIK dari Kementerian Kominfo merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi ini sembari menunggu selesainya inisiatif Palapa Ring untuk penyiapan infrastruktur TIK. Namun demikian, infrastruktur TIK hanyalah salah satu aspek dari TIK, masih diperlukan pengembangan dari sisi konten, aplikasi, SDM pendukung, selain juga hal dasar seperti listrik yang stabil juga masih menjadi salah satu faktor penghambat. (2) Keengganan Tenaga Kesehatan untuk menggunakan e-Health Dari aspek kesehatan, perlu pembangunan kapasitas untuk mendidik para tenaga kesehatan dalam pemanfaatan TIK. Melirik negara tetangga Filipina, pemanfaatan e-Health di negara tersebut disertai dengan kejelasan remunerasi ketika seorang pekerja kesehatan melayani masyarakat secara ‘jarak jauh’. (3) masalah informasi dan teknologi (IT) Hingga saat ini tidak semua rumah sakit hingga puskesmas memiliki infrastruktur IT memadai.Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prijo Sidipratomo menjelaskan sistem e-Health tersebut akan merombak sistem layanan yang ada di rumah sakit selama ini. Apalagi rumah sakit tersebut belum menerapkan teknologi untuk menunjang operasionalnya. 

e-health dapat diterapkan di Indonesia apabila seluruh elemen masyarakat sepakat untuk bekerja sama dqan mengimplementasikannya, mengingat keefektifan dan keefesienan dalam sistem pelayanan kesehatan di rumah sakit ataupun di pusat kesehatan mmasyarakat.



Daftar Pustaka

Al Hadi, Sopyan Yayan. (2016). Layanan Kesehatan Buruk, Masyarakat Yang Berobat Ke Malaysia Tak Bisa Disalahkan. [online] rmol. Tersedia di : http://www.rmol.co/read/2016/05/07/245830/Layanan-Kesehatan-Buruk,-Masyarakat-Yang-Berobat-Ke-Malaysia-Tak-Bisa-Disalahkan-.[diakses pada 18 Mei 2016]

Yunisa, Arbi.  (2016). Layanan Kesehatan Buruk, Ratusan Dokter Bakal Geruduk Istana Negara. [online] Harian Terbit. Tersedia di: http://www.harianterbit.com/hanterhumaniora/read/2016/02/27/57713/87/40/Layanan-Kesehatan-Buruk-Ratusan-Dokter-Bakal-Geruduk-Istana-Negara. [diakses pada 18 Mei 2016]

Burhani, Ruslan. (2008). Diluncurkan Indikator Teknologi Informasi dan Komunikasi. [online] Antar News. Tersedia di : http://www.antaranews.com/berita/91262/diluncurkan-indikator-teknologi-informasi-dan-komunikasi. [diakses pada 18 Mei 2016]

MT. (2015). Pelayanan Dokter RSUD Dikeluhkan. [online] rakyatjambi.co. Tersedia di : https://rakyatjambi.co/pelayanan-dokter-rsud-dikeluhkan/. [diakses pada 18 Mei 2016]

DOY. (2016). Pelayanan Rsud Bob Bazar Kalianda Terus “Dibanjiri” Keluhan. [online] Sinar Media. Tersedia di : http://sinarmedia.co/pelayanan-rsud-bob-bazar-kalianda-terus-dibanjiri-keluhan.html. [diakses pada 18 Mei 2016]

Nugik. (2016). Keluhan Pasien di Pirngadi, Sudah Antri…. Alatnya Rusak Pulak….. [online] Metro 24. Tersedia di : http://www.metro24.co/keluhan-pasien-di-pirngadi-sudah-antri-alatnya-rusak-pulak/. [diakses pada 18 Mei 2016]

Chandra, Wendy. (2016). Data Internet, Web, dan Mobile di Indonesia . [online] Gadget. Tersedia di : http://gadgetplus.id/2350-2/2/. [diakses pada 19 Mei 2016]
[online] UN. Tersedia di : http://www.un.org/sustainabledevelopment/health/. [diakses pada 19 Mei 2016]

Anonim,  “Mobile       Cellular           Subscriptions (per100           people). [online] worldbank. Terseida di: http://data.worldbank.org/indicator/IT.CEL.SETS.P2.(diakses 25 Mei 2016)

Hakm, Abdul. (2014). e-health, Pelayanan Kesehatan Online Pemerintah Kota Surabaya. [online] Antarjatim. Tersedia di : http://www.antarajatim.com/lihat/berita/145946/e-health-pelayanan-kesehatan-online-pemerintah-kota-surabaya. (diakses pada 26 Mei 2016)

Noname. (2014). e-health, Layanan Terbaru Pemkot Surabaya untuk Warga. [online] Kaskus. Tersedia di : http://www.kaskus.co.id/thread/5461e3f6a3cb17d5388b456d/risma-e-health-layanan-terbaru-pemkot-surabaya-untuk-warga/. (diakses pada 26 Mei 2016)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar